
Apakah pilihan kebijakan Swasembada Daging Sapi suatu pilihan yang benar ? Jawabannya kembali kepada kita semua karena swasembada daging sapi merupakan upaya kita untuk lebih mensejahterakan peternak dalam negeri. Selain itu upaya berswasembada daging sapi kita secara bertahap menurunkan ketergantungan kita terhadap pihak lain. Dalam kondisi seperti saat ini, dimana 70 persen kita baru mampu memenuhi supply domestik, 30 persen dari impor, ini adalah pilihan kebijakan yang sama sekali belum terlambat. Bayangkan apabila supplai domestik hanya 30 persen dan 70 persen tergantung impor. Apa jadinya ? Berarti pada kondisi ini tingkat ke swasembadaan kita atau bahkan kedaulatan daging berada di pihak luar, oleh karena itu pilihan swasembada daging selain belum terlambat juga dalam rangka untuk menggerakkan seluruh potensi dalam negeri. Mumpung belum terlambat !
Disisi lainnya keinginan untuk berswasembada daging sebenarnya sudah sejak lama yaitu dimulai sejak era Menteri Bungaran Saragih (2000 – 2004), tetapi keinginan yang luhur tersebut belum ditindaklanjuti secara operasional sampai tingkat lapangan. Baru menjadi selogan, wacana dari rapat ke rapat, seminar ke seminar. Ibaratnya hanya menjadi ”Talking Policy”. Kita tidak berniat menyalahkan keadaan lampau, tetapi kita akan mengacu kepada berbagai kelemahan ataupun kelebihan yang ada untuk menuju kedepan, pilihan kebijakan swasembada daging sapi tahun 2010, yang telah kita pilih.
Dengan berbagai macam kelemahan-kelemahan mari kita garap bersama swasembada daging tersebut Pergeseran ke Makna Image Sementara nilai impor ternak dan daging sapi dari tahun ke tahun meningkat, data menunjukan dari realisasi impor ternak sapi potong bakalan dari Australia pada th 2007 saja sudah mencapai 496.368 ekor dan daging sapi diperkirakan sekitar 69.000 ton. Angka-angka ini khususnya untuk ternak sapi bakalan, yang menurut BPS rata-rata akan meningkat 13,4 persen pertahun memang diperlukan upaya-upaya khusus untuk menurun kan impor sapi bakalan dan daging tersebut.
Importasi ternak sapi bakalan dan daging pada awalnya yaitu th 1985 hanya dijalankan karena semata-mata untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang berkualitas yang belum mampu diproduksi dalam negeri, importasi tersebut diperuntukkan pada segmen-segmen pasar tertentu misalnya : Restoran berbintang, Hotel-hotel Internasional dengan memenuhi kebutuhan eks Patriat yang bekerja pada pengeboran minyak dan pekerja-pekerja asing lainnya. Pada waktu itu daging impor dan sapi bakalan impor tidak pernah memasuki pasar becek.
Kini makna dari importasi tersebut telah berubah dan bergeser. Importasi dimaksudkan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat umum sehingga kemudian dihitung berapa kebutuhan untuk konsumsi (demand) dan berapa supply dalam negeri. Pergeseran dan makna dari kebijaksanaan importasi tersebut hendaknya dapat kita luruskan kembali, sehingga benar-benar industri peternakan rakyat dapat menjadi tulang punggung yang dapat menopang kokoh industri sapi didalam negeri. Kemudian kita jadikan kegiatan importasi tersebut hanya benar-benar sebagai pelengkap karena memang kita belum mampu menghasilkannya.
Akibat dari kebijakan yang telah mulai bergeser tersebut maka timbullah “Booming” permintaan importasi sapi bakalan dan daging serta jerohan. Kembali Ke Khittah Kalau kita berkeinginan berswasembada daging sapi 2010 maka kita harus kembali ke “ke khittoh” makna importasi tersebut agar tidak terjadi kebablasan impor yang membabi buta. Sehingga terpaksa kita lakukan import sapi kiloan menjadi sapi bibit dan bahkan kita mengimpor usus, paru dan bahan-bahan afkir lainnya. Kita akui kelemahan kita. Perbibitan ternak belum berjalan sebagaimana mestinya.
Pada hal inilah kunci sebenarnya dalam usaha budidaya ternak kita. Pemerintah belum berhasil mewujudkan Sistem perbibitan ternak besar yang terpadu dan berkelanjutan. Sistem Perbibitan ternak kita masih berjalan parsial, mengintegrasikan semua subsistem perbibitan ternak yang ada, termasuk sumber daya manusia, Teknologianggaran dan segmen segmen pasar yang dapat menangkap output dari tiap-tiap subsistem yang ada.
Demikian juga soal daya saing. Kalau soal daya saing itu akan tercapai bila kita berhasil mengefesienkan laju produksi. Efisiensi akan tercapai kalau skala ekonomi usaha terwujud. Tetapi kita masih memiliki banyak keunggulan-keunggulan yang orang lain tidak punya Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2010, bukanlah sekedar omong kosong tetapi karya nyata yang harus diwujudkan. Tentunya Memerlukan dukungan bersama. Memang suatu pilihan kegiatan itu tidak hitam atau putih, benar atau salah, tetapi seberapa banyak orang yang dapat memetik manfaatnya. Semakin banyak orang memetik manfaat semakin tidak omong kosong suatu kebijakan.
Sumber: http://www.ditjennak.go.id/
Disisi lainnya keinginan untuk berswasembada daging sebenarnya sudah sejak lama yaitu dimulai sejak era Menteri Bungaran Saragih (2000 – 2004), tetapi keinginan yang luhur tersebut belum ditindaklanjuti secara operasional sampai tingkat lapangan. Baru menjadi selogan, wacana dari rapat ke rapat, seminar ke seminar. Ibaratnya hanya menjadi ”Talking Policy”. Kita tidak berniat menyalahkan keadaan lampau, tetapi kita akan mengacu kepada berbagai kelemahan ataupun kelebihan yang ada untuk menuju kedepan, pilihan kebijakan swasembada daging sapi tahun 2010, yang telah kita pilih.
Dengan berbagai macam kelemahan-kelemahan mari kita garap bersama swasembada daging tersebut Pergeseran ke Makna Image Sementara nilai impor ternak dan daging sapi dari tahun ke tahun meningkat, data menunjukan dari realisasi impor ternak sapi potong bakalan dari Australia pada th 2007 saja sudah mencapai 496.368 ekor dan daging sapi diperkirakan sekitar 69.000 ton. Angka-angka ini khususnya untuk ternak sapi bakalan, yang menurut BPS rata-rata akan meningkat 13,4 persen pertahun memang diperlukan upaya-upaya khusus untuk menurun kan impor sapi bakalan dan daging tersebut.
Importasi ternak sapi bakalan dan daging pada awalnya yaitu th 1985 hanya dijalankan karena semata-mata untuk memenuhi kebutuhan daging sapi yang berkualitas yang belum mampu diproduksi dalam negeri, importasi tersebut diperuntukkan pada segmen-segmen pasar tertentu misalnya : Restoran berbintang, Hotel-hotel Internasional dengan memenuhi kebutuhan eks Patriat yang bekerja pada pengeboran minyak dan pekerja-pekerja asing lainnya. Pada waktu itu daging impor dan sapi bakalan impor tidak pernah memasuki pasar becek.
Kini makna dari importasi tersebut telah berubah dan bergeser. Importasi dimaksudkan sebagai pemenuhan kebutuhan konsumsi masyarakat umum sehingga kemudian dihitung berapa kebutuhan untuk konsumsi (demand) dan berapa supply dalam negeri. Pergeseran dan makna dari kebijaksanaan importasi tersebut hendaknya dapat kita luruskan kembali, sehingga benar-benar industri peternakan rakyat dapat menjadi tulang punggung yang dapat menopang kokoh industri sapi didalam negeri. Kemudian kita jadikan kegiatan importasi tersebut hanya benar-benar sebagai pelengkap karena memang kita belum mampu menghasilkannya.
Akibat dari kebijakan yang telah mulai bergeser tersebut maka timbullah “Booming” permintaan importasi sapi bakalan dan daging serta jerohan. Kembali Ke Khittah Kalau kita berkeinginan berswasembada daging sapi 2010 maka kita harus kembali ke “ke khittoh” makna importasi tersebut agar tidak terjadi kebablasan impor yang membabi buta. Sehingga terpaksa kita lakukan import sapi kiloan menjadi sapi bibit dan bahkan kita mengimpor usus, paru dan bahan-bahan afkir lainnya. Kita akui kelemahan kita. Perbibitan ternak belum berjalan sebagaimana mestinya.
Pada hal inilah kunci sebenarnya dalam usaha budidaya ternak kita. Pemerintah belum berhasil mewujudkan Sistem perbibitan ternak besar yang terpadu dan berkelanjutan. Sistem Perbibitan ternak kita masih berjalan parsial, mengintegrasikan semua subsistem perbibitan ternak yang ada, termasuk sumber daya manusia, Teknologianggaran dan segmen segmen pasar yang dapat menangkap output dari tiap-tiap subsistem yang ada.
Demikian juga soal daya saing. Kalau soal daya saing itu akan tercapai bila kita berhasil mengefesienkan laju produksi. Efisiensi akan tercapai kalau skala ekonomi usaha terwujud. Tetapi kita masih memiliki banyak keunggulan-keunggulan yang orang lain tidak punya Pencapaian Swasembada Daging Sapi 2010, bukanlah sekedar omong kosong tetapi karya nyata yang harus diwujudkan. Tentunya Memerlukan dukungan bersama. Memang suatu pilihan kegiatan itu tidak hitam atau putih, benar atau salah, tetapi seberapa banyak orang yang dapat memetik manfaatnya. Semakin banyak orang memetik manfaat semakin tidak omong kosong suatu kebijakan.
Sumber: http://www.ditjennak.go.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar