Rochadi Tawaf
Berdasarkan data pemerintah bahwa gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala Richter pada tanggal 2 September 2009 yang berpusat di 142 km barat daya Tasikmalaya pada kedalaman 30 km, telah mengguncang sebagian wilayah Jawa Barat. Gempa ini mengakibatkan sedikitnya 64.398 rumah rusak berat dan 141.341 lainnya rusak ringan. Selain itu, yang juga rusak berat adalah 2.128 masjid, 1.134 sekolah dan madrasah, 232 kantor pemerintahan, serta 22 pondok pesantren. Menurut rencana, rekonstruksi dan rehabilitasi akan dilakukan pada pertengahan Oktober 2009 berpedoman pada keberhasilan penanganan pascagempa di DI Yogyakarta. Khususnya, di kawasan peternakan sapi perah di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.
Di kawasan tersebut, peternak sapi perah seluruhnya tergabung dalam Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) dengan jumlah peternak 5.200 KK, populasi sapi perah 18.509 ekor dengan produksi susu rata-rata 130 ton/hari yang dilayani oleh 33 unit tempat penampungan susu.
Gempa tersebut telah memorak-porandakan infrastruktur Pos Keswan atau pos Inseminasi Buatan (IB), Milk Treatment (MT), 10 unit bangunan Tempat Penampungan Susu (TPS) dan 10 unit infrastruktur saluran air untuk budi daya sapi perah dalam kondisi rusak berat. Selain itu, sekitar seribuan kandang milik peternak dalam keadaan rusak ringan, sedang sampai berat (sumber Dinas Peternakan Jawa Barat). Secara psikis, yang tidak ternilai harganya adalah "trauma" yang di alami oleh para peternak dalam menghadapi hidup dan kehidupannya pascagempa bumi tersebut.
Artikel lengkap baca di Pikiran Rakyat Online, 4 Oktober 2009
04 Oktober 2009
Langganan:
Postingan (Atom)